Aku
tidak tahu persis, apakah ini yang dinamakan babyblues? Tetapi, karenanya aku
menjadi seorang pembelajar demi anakku.
Ini
semua kulakukan karena rasa takutku akan kejadian buruk yang pernah menimpaku. Aku
mengalami keguguran calon anak pertama. Yang membuatku depresi hingga terlalu menyalahkan
diri. Maka 2 bulan setelah kejadian itu, saat aku diberi kabar bahwasanya
positif mengandung lagi, aku sangat over protektif. Baik saat mengandung maupun
setelah lahiran.
Aku
pernah mendengar, kita jangan sampai melewatkan moment berharga dalam mendidik
anak. Yakni masa emas anak, umur 0-3
tahun. Di masa itu kemampuannya dalam menyerap segala informasi sangat tinggi.
Sehingga ini bisa dijadikan sarana dalam pembentukan karakter anak. Di masa
ini, kemungkinan besar apa saja yang ia pelajari akan terpatri lebih dalam
dibanding masa-masa lainnya.
Maka
aku makhlum kalau mertuaku heran dengan kelakuanku dalam memanfaatkan momen
ini. Pasalnya, di jamannya beliau belum ada hal semacam ini. Jadi jelas saja
wajar kalau beliau selalu mematahkan dengan kata-kata setiap kali tahu usahaku
itu.
Aku
berusaha makan makanan seperti sayuran hijau, buah-buahan, susu ibu hamil,
daging, ikan dsb. Ibu mertua selalu membandingkan dengan keadaannya hamil di
jaman dulu. Katanya, jaman dulu ia makan seadanya. Tapi tidak terjadi apa-apa
pada bayinya. Aku pun menjadi tidak keras kepala dalam pemenuhan asupan ini, tidak
seperti awal-awal hamil.
Jadi
kubeli kebutuhan makanan ini sesuai selera saja, karena aku mengalami nyidam
saat hamil. Dan yang pasti sesuai dagangan yang ada di tukang sayur keliling.
Hehe. Saya jadi rajin memetik daun pepaya untuk lalapan. Sebelumnya aku sering rewel minta diantarkan ke pasar untuk beli ini itu
karena ketakutan terjadi apa-apa pada bayiku di kandungan. Namun setelah
dipikir-pikir, ibu saja tidak apa-apa makan seadanya. Berarti sugesti itu penting pengaruhnya bagi kesehatan ibu hamil dan kandungannya. Kini yang terpenting kuambil sisi positifnya
sajalah. Aku tidak lagi menuruti hawa nyidam. Ku penuhi asupan gizi dengan benar dan cara yang sederhana. Semoga ini bisa menjadi jalan mendidik anakku untuk
hidup sederhana, tidak rewel, dan tidak merepotkan oranglain. Amin..
Lalu
saat persiapan persalinan. Ini adalah hari yang kutunggu-tunggu. Bukan saja
senang karena akan memiliki anak. Tetapi juga senang karena waktunya belanja
perlengkapan bayi. Hehe. Jauh-jauh hari sudah kusiapkan daftar barang yang akan
kubeli. Sesampainya di pasar, ternyata tidak sesuai rencana. Suamiku selalu
menegurku saat memilih dan membeli, terutama pada jumlahnya. Lagi-lagi ini
semua karena aku takut kalau kurang jika tidak membeli cukup banyak. Xixixi.
Maka saat di kios pakaian bayi tak tanggung-tanggung aku minta 1 lusinan lebih
per itemnya. Tapi setelah suamiku ikut campur memilih dan memilah, hanya
setengahnya saja yang dibeli. Katanya, badan bayi cepat sekali tumbuhnya. Jadi eman-eman kalau tidak kepakai nantinya,
padahal baru saja beli. Lebih baik sering beli tapi sedikit-sedikit jumlahnya,
sesuai kebutuhan. Hmm, aku mendengus. Manut saja.
![]() |
| Alam umur seminggu |
Dan
benar sekali kata suamiku itu. Setelah prakteknya, memang bayiku tumbuh pesat.
Pakaiannya gampang sesak. Wah, kalau
saja dulu tidak nggugu suami. Bakal
membengkak nih biayanya hanya buat pakaian. Mending ditabung buat kebutuhan
lainnya. Hehe. Untungnya aku termasuk tipe istri manutan, meski sebelumnya ngeloyor
punya pemikiran sendiri.
Aku
jadi paham bahwasanya stimulus bagi bayi adalah semua perlakuan kita padanya
baik yang dilihatnya maupun tidak. Jadi benar adanya, kalau kita sedang
mengandung disuruh menjaga sikap perilaku kita. Hihihi. Nah untuk stimulus
terbaik untuk bayiku, aku pilih yang original saja. Dengan kata lain tanpa
dibuat-buat. Aku manfaatkan hal apa saja yang ada di sekitaranku.
Saat bayiku membutuhkan stimulus dari mainan, memang aku ribut menyuruh suami membelikan. Tapi tentu aku sudah hapal wataknya. Ia hanya membeli 3 macam saja. Itu pun yang gampang dimainkan. Icik-icik, bola kecil, dan boneka karet yang bisa bunyi ketika diremas. Aku diam saja. Pasti ada alasannya. Tapi aku malas menanyakannya. Hehe.
| Alam Tidur Pulas (umur 5 bulan) |
| Belajar dari sekitar |
Saat bayiku membutuhkan stimulus dari mainan, memang aku ribut menyuruh suami membelikan. Tapi tentu aku sudah hapal wataknya. Ia hanya membeli 3 macam saja. Itu pun yang gampang dimainkan. Icik-icik, bola kecil, dan boneka karet yang bisa bunyi ketika diremas. Aku diam saja. Pasti ada alasannya. Tapi aku malas menanyakannya. Hehe.
| Bermain Angry Bird |
Tapi
itu juga hanya sementara. Saat ini, Sesuai tahap tumbuh kembangnya di usia 8
bulan. Ia sedang mengeksplor semua alat indranya dengan memegang, merambat,
merangkak, bergumam, tertawa lepas, bercanda, mengamati, dsb. Setiap pagi dan sore
selalu mengajak keluar rumah. Ia tidak begitu suka digendong. Ia akan berusaha
melepaskan diri dari gendongan. Ini tandanya ia ingin merangkak bebas. Sekarang
ia lebih suka bermain tanah dan meremas dedaunan yang berguguran di halaman
rumah. Jika sudah capek membuntutinya, maka aku ataupun ibu akan membiarkannya
bermain di dalam bak.
Awalnya
saya cerewet saat sang suami membiarkan si dedek marangkak bebas di atas tanah
lalu bermain tanah. Namun setelah melihat kelincahan bayiku merangkak sambil
tertawa, aku jadi luluh. Ini bisa menjadi salahsatu cara awal mengenalkan dan
mencintai alam sekitar.
Untuk bahasanya. Aku biasakan berbicara dengan Bahasa Jawa Krama sejak dini, meski ia belum bisa berbicara. Agar nantinya, sejak kecil ia terbiasa berbahasa krama dengan orang yang lebih tua darinya tentunya. Hal ini kulakukan karena agar porsi bahasanya seimbang. Sebab di sekolah nantinya sudah diajarkan bahasa selain bahasa jawa. Juga supaya identitas kelokalan anak saya ada. Sebab saya takut ia akan menjadi gunjingan masyarakat kalau tidak bisa berbahasa daerah sesuai ia bertempat tinggal dan lahir di sini.
| Bermain Tanah |
Untuk bahasanya. Aku biasakan berbicara dengan Bahasa Jawa Krama sejak dini, meski ia belum bisa berbicara. Agar nantinya, sejak kecil ia terbiasa berbahasa krama dengan orang yang lebih tua darinya tentunya. Hal ini kulakukan karena agar porsi bahasanya seimbang. Sebab di sekolah nantinya sudah diajarkan bahasa selain bahasa jawa. Juga supaya identitas kelokalan anak saya ada. Sebab saya takut ia akan menjadi gunjingan masyarakat kalau tidak bisa berbahasa daerah sesuai ia bertempat tinggal dan lahir di sini.
Salahsatu
kegemaranku, mencari informasi tentang segala hal mengenai tumbuh kembang anak.
Terkadang kita harus kreatif mengaplikasikan pengetahuan tersebut sesuai kondisi. Baik
kondisi si bayi maupun adat istiadat. Dengan harapan anakku nantinya mampu
beradaptasi, ramah dengan tradisi, mandiri, sehat jiwa dan fisiknya. Juga
tentunya sholeh sholekhah.
Membekali
anak harus dengan sangat hati-hati. Terkadang apa yang kita kira baik belum
tentu terbaik. Untuk setiap orangtua pasti beda kriteria terbaik. Karena memang
latar belakang kita berbeda. Semua tergantung dengan pengalaman masing-masing. Sekarang,
rasa takutku itu sirna. Kini, aku percaya stimulus terbaik untuk bayiku adalah
akulturasi antara kemajuan IPTEK dan kearifan lokal yang dilandasi ilmu agama.
Untuk itu aku tidak pernah menampik usulan dan nasehat mertuaku yang notabene
“orang kuno” dalam hal cara merawat dan mengasuh anak. Kelak, anakku juga boleh
memanfaatkan kemajuan teknologi. Dengan catatan, kalau sudah paham fungsinya,
sudah waktunya membutuhkan, dan sudah bisa dipercaya. Tentunya ini membutuhkan
proses dan strategi.
Nah, itu kisahku ... Bagaimana dengan bunda?
Nah, itu kisahku ... Bagaimana dengan bunda?


6 komentar
gemessss deh lihat si adik. Apalagi pas bobok
BalasHapussayang aku belum jadi mom jadi blm bs ikutan GA ini hiks hiks.. semoga menang ya mak
BalasHapusTrimakasih mak arin dan mak dian.. ;)
BalasHapusserunya menjadi ibu ya, mulai dari persiapan lahir sampai mengurusnya he. sukses dengan GAnya
BalasHapusMelihat tumbuh kembang anak memang sangat menyenangkan, dari mulai kelucuannya, tingkah polahnya,
BalasHapussaya juga gak pernah ngalamin ngidam mak... :)
BalasHapusItu bobonya bikin gemes deh...